Sejarah

Peradaban tertua yang ditemukan adalah peradaban Neolitik yang terletak di Situs Warisan Dunia UNESCO di Ban Chiang, Udon Thani. Di sini kita masih bisa melihat peninggalan peradaban berupa gerabah, perunggu, dan makam yang telah berusia 4000 – 7500 tahun yang lalu.

Selama abad-abad awal yang disebut sebagai Common Era, suku-suku Mon, Khmer, dan Tai mendirikan peradaban di kawasan yang kini menjadi Thailand modern. Peradaban ini disebut era Dvaravati, berbicara dalam bahasa Mon dan beragama Buddha, namun di abad kedua dikuasai oleh kerajaan Khmer dari Angkor.

Penggemar sejarah disarankan untuk mengunjungi National Museum di Bangkok, selain desa Ban Chiang di Udon Thani.

Sejarah Kerajaan Thailand sendiri dimulai ketika raja Meng Rai mendirikan kerajaan Lan Na (1292–15 Januari 1775) beribukota di Chiang Mai dan menguasai Thailand Utara saat ini, seperti Chiang Rai dan Mae Hong Son. Lan Na berarti “jutaan sawah”, mulai memasuki masa keemasan setelah mengalahkan kerajaan Mon di Haripunchai (Lamphun sekarang). Kerajaan ini berbatasan dengan kerajaan Sukhothai dan Phayao.

Di bagian tengah Thailand, Kerajaan Ayutthaya (1351–1767), yang sangat dipengaruhi oleh Khmer Angkor, akhirnya menaklukkan kerajaan tetangganya Sukhothai dan mendominasi wilayah tersebut selama beberapa ratus tahun. Ayutthaya juga membuka perdagangan dengan dunia, seperti dengan China, Vietnam, India, Jepang dan Persia, serta bangsa-bangsa barat seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Perancis.

Di abad ke 16, oleh kalangan asing Ayutthaya dikenal sebagai kota terbesar dan terkaya di Timur. Raja Narai (1656–1688) mempunyai hubungan dekat dengan Raja Louis XIV dari Prancis, dan duta besarnya membanding kekayaan dan ukuran kota ini dengan Paris.

Tahun 1550, kerajaan Ayutthaya mencakup kerajaan vasal di Semenanjung Melayu, Sukhothai, Lan Na, Burma dan Cambodia. Konon, kerajaan ini begitu kaya hingga menghiasi kuil-kuil dan istana dengan emas.

Dalam catatan asing, Ayutthaya sudah dipanggil sebagai Siam, tapi menurut beberapa sumber orang Ayutthaya menyebut dirinya orang Thai, dan kerajaan mereka sebagai kerajaan Krung Thai “negara Thai”.

Sayangnya, di abad 16 kerajaan Burma kemudian menaklukkan Chiang Mai dan akhirnya menghancurkan Ayutthaya pada tahun 1767, dan membakar kota Ayutthaya untuk mengambil emas. Kejadian ini begitu membekas bagi kenangan orang Thailand, hingga hari ini.

Setelah Burma mundur karena berperang dengan China, salah satu jenderal Ayutthaya, Tak Sin yang Agung, memindahkan kerajaan ke selatan, dan mendirikan ibukota baru di Thon Buri dekat Bangkok.

Sejarah Ayutthaya masih bisa dilihat dengan jelas di Ayutthaya Historical Park, di mana kuil-kuil tampak dibakar untuk diambil emasnya.

Setelah periode Thon Buri yang singkat (1767-1772), penerus raja Taksin yaitu Chao Phraya Chakri atau Rama I lalu memindahkan ibu kota melintasi Sungai Chao Phraya, mendirikan ibukota modern Bangkok untuk memulai Era Ratanakosin yang dipimpin oleh Dinasti Chakri dalam sejarah Thailand.

Kepemimpinan diplomatik yang cerdas dari Raja Mongkut (Rama IV, 1851-1868) dan Raja Chulalongkorn (Rama V, 1868-1910) berhasil mempertahankan kemerdekaan kerajaan Siam selama 700 tahun yang luar biasa dan tidak pernah dijajah oleh kekuatan asing.

Pada tahun 1948, kerajaan Siam resmi mengganti nama menjadi kerajaan Thaialnd, dan saat ini Thailand menganut sistem monarki konstitusional, dengan Kepala Negara adalah Raja Vajiralongkorn (2016-sekarang) atau Rama X dari Dinasti Chakri.

Fra Mauro World Map detail South East Asian mainland 1 - Sejarah